All for Joomla All for Webmasters
General Article

Ransomware Merajalela, Negara Mana yang ‘Juara’?

Kaspersky menaruh perhatian khusus terhadap meningkatnya serangan cyber di wilayah Asia Pasifik. Serangan ini terutama menyasar sistem keuangan, baik perusahaan maupun individu. Jenis serangan pun beragam, salah satunya yang sedang ‘naik daun’ adalah ransomware.

Berdasarkan statistik Kaspersky Security Network Cloud Service, peningkatan insiden ransomware terdeteksi di wilayah Asia Pasifik. Pada Juli hingga Agustus, insiden ransomware meningkat pesat dibandingkan periode sebelumnya di bulan Februari hingga Maret, yakni sebesar 114%.

Ada beberapa negara yang memperlihatkan pertumbuhan ransomware sangat pesat. Di Asia Pasifik, India tercatat sebagai negara dengan upaya infeksi ransomware tertinggi, disusul setelahnya Vietnam.

“Peningkatan insiden karena ransomware merefleksikan tren global, juga menjadi peringatan bahwa wilayah Asia Pasific menjadi target serangan ransomware dan kampanye cryptoware,” Director, Global Research & Analysis Team APAC Kasperky Lab Vitaly Kamluk berbicara di salah satu sesi acara Kaspersky Lab Cyber Security Weekend, di Intercontinental Hotel, Jimbaran, Bali, Jumat (7/10/2016).

be871ad5-79d6-46dd-a089-f1525fb23e52

Statistik ini juga mengungkap bagaimana Asia Pasifik menjadi sasaran empuk serangan cyber. Pada Juli-September 2016, terlihat bahwa di sejumlah negara Asia Pasifik, rata-rata 49% pengguna mengalami insiden keamanan terkait dengan jaringan lokal dan removable media, serta 17% pengguna harus berurusan dengan serangan terkait dengan web.

Vietnam, Fiiphina, India adalah negara-negara dengan angka tertinggi pengguna yang mengalami insiden serangan lokal. Adapun masing-masing persentasenya adalah 64%, 58% dan 55%. Temuan ini juga memperlihatkan China yang tertinggi dalam serangan web detection (24% pengguna), diikuti oleh Vietnam, India dan Indonesia, masing-masing 23%, 18,5% dan 18,5%.

“Australia dan Singapura merupakan negara yang paling sedikit mengalami insiden. Meski demikian, bukan berarti keduanya terbebas dari insiden sama sekali. Australia dan Singapura masih punya sekitar 12% pengguna yang mengalami insiden web, dan sekitar 30% terkena serangan lokal,” ungkap Vitaly.

Secara keseluruhan, pertumbuhan terbesar dari jumlah total insiden cyber yang terdeteksi oleh produk Kaspersky Lab tercatat di India, sementara penurunan angka insiden cyber terbanyak terjadi di Australia.

Sebagai tambahan, berdasarkan survei Global Corporate IT Security Risk 2015 yang dilakukan Kaspersky Lab dan B2B International, terungkap ada lima jenis serangan cyber yang dihadapi sebuah perusahaan, yakni malware, spam, phising, kerentanan software dan kebocoran informasi atau data secara tak sengaja akibat keteledoran staf.

Dikatakan Vitaly, di Kaspersky Lab mereka meyakini bahwa pemahaman terhadap serangan komputer sangat penting sebagai tindakan pencegahan. Vitaly dan timnya mengaku menghabiskan banyak waktu untuk menganalisa, mengelompokkan dan menginvestigasi serangan yang meluas secara kuantitas, keragaman serta kompleksitasnya.

“Data personal dan rahasia, reputasi dan finansial sebuah organisasi, juga pengguna rumahan bisa aman dengan perilaku mereka terhadap IT, solusi keamanan yang kuat, dan keinginan untuk belajar lebih banyak,” tutupnya

sumber: http://inet.detik.com/read/2016/10/07/154943/3315700/323/ransomware-merajalela-negara-mana-yang-juara?i992202105

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top